Bentar Lagi Pemilu, Milih Siapa??

04Sep08

Saat ini kita berada dalam zaman kebingungan. Setelah Indonesia merdeka, situasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang sedemikian memprihatinkan terjadi saat ini. Krisis ekonomi yang memacu gerakan reformasi berhasil menjatuhkan rezim Presiden Soeharto pada tahun 1998. Orde Reformasi yang sudah berjalan sepuluh tahun ini ternyata belum mampu menunjukkan arah kebijakan sebagai sebuah rezim yang lebih baik dari orde yang digantikannya. Hungtington menyebutkan 4 tahap demokratisasi (1) keruntuhan rezim otoriter (2) periode transisi demokrasi (3) periode konsolidasi demokrasi (4) periode pendewasaan tertib politik yang demokratis.

Banyak sekali hal yang diubah dalam taa negara Indonesia saat ini.

Indonesia sudah mempunyai sistem demokrasi, yaitu musyawarah mufakat. Namun, saat ini diganti dengan demokrasi liberal melalui voting. Sistem demokrasi melalui lembaga perwakilan diganti dengan demokrasi langsung. Hal itu memerlukan proses yang panjang dan berbelit-belit. Selain itu juga rawan perpecahan dalam masyarakat. Nampaknya, demokrasi semacam ini terlalu mahal bagi Bangsa Indonesia yang bisa dikatakan miskin.

Ekonomi Indonesia yang berdasarkan azas kekeluargaan untuk menciptakan kesejahteraan rakyat, diganti dengan ekonomi pasar yang hakikatnya hanya menguntungkan para kapitalis atau konglomerat bahkan dengan cara menindas rakyat. Sistem pertahanan keamanan rakyat semesta tidak dapat berjalan lancar karena TNI dipisahkan dari rakyat.

Begitupun dengan pendidikan nasional, karena dihapuskan fungsi pembentukan karakter kebangsaan. Pendidikan nasional sekarang ini semata-mata hanya mengejar perkembangan akademis saja dan mengesampingkan perkembangan bakat kepribadian dan budi pekerti.

Ironis sekali saat ini, pendidikan yang juga dipisahkan dari budaya Bangsa, pendidikan di Indonesia sudah dikomersialkan. Tak ada bedanya dengan jaman penjajahan dulu. Kalau ingin pendidikan yang maju dan berkualitas, maka ya harus mahal, kalau pendidikan mahal yang bisa sekolah ya hanya anak-anaknya orang kaya saja. Sedangkan anak-anak orang miskin tidak bisa merasakan pendidikan tinggi. Memang tak ada bedanya dengan jaman penjajahan dulu, padahal sudah 63 tahun Indonesia merdeka.

Demokrasi bukanlah fastfood, bukan pula ”mie instant”, yang dapat dengan cepat tersaji menjadi sebuah makanan yang enak. Demokrasi harus melalui sebuah proses yang cukup panjang.

Masyarakat Indonesia yang sebenarnya tidak siap dengan perubahan-perubahan seperti itu, masih dipaksa memilih Pemimpin bagi Indonesia ini. Rakyat Indonesia yang jumlahnya sekitar dua ratus juta jiwa, yang mengerti politik sangat sedikit sekali, dan tak jarang kebanyakan masyarakat memilih pemimpinnya karena penampilan fisiknya saja, ironis sekali… Mereka tidak memilih berdasarkan visi dan misi dari pemimpin itu sendiri. Golput alias abstain juga semakin bertambah dari tahun ke tahun, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sudah tidak peduli dan tidak percaya lagi terhadap para Pemimpinnya. Seperti ibu saya, beliau berkata ,”buat apa nyoblos?? Mending golput, toh siapapun yang akan terpilih nanti tidak akan ada pengaruhnya bagi saya.” Jika hal demikian dibiarkan berkembang di masyarakat, buat apa ada demokrasi langsung segala? Apa harus kembali ke rezim otoriter saja?

Lalu, seperti apa tokoh pemimpin yang layak bagi Indonesia di jaman carut-marut seperti ini? Saat ini tokoh yang mencalonkan diri menjadi presiden untuk mengikuti pemilu 2009 juga bisa dibilang tidak sedikit. Masyarakat akan dibuat kebingungan lagi dengan hal ini. Saya pribadi juga bingung siapa nanti yang akan saya pilih. Walaupun tidak ada yang sempurna, setidaknya saya ingin menyumbangkan suara saya bagi calon yang terbaik diantara yang lain.

Saat bingung memilih seperti ini, lebih baik kita memilih capres yang program-programnya konkret dan bisa dijalankan di Indonesia ini. Buat apa program muluk-muluk kalo toh nantinya tidak bisa dijalankan dan hanya akan menimbulkan tuntutan di masa yang akan datang?

Dengan tidak ada maksud memihak salah satu Capres, Saya ingin mengajak para pembaca tulisan ini untuk sedikit berpikir mengenai seperti apakah Capres yang kira-kira pantas kita pilih di Pemilu 2009 nanti. Kita mulai dengan sebab jatuhnya Rezim Soeharto. Jatuhnya Rezim Soeharto salah satunya dikarenakan keinginan untuk mengubah Indonesia dari Negara Agraris menjadi Negara Industri. Kalau saya bilang, hal itu ”tidak pas”. Why? Penduduk Indonesia makan beras, dan beras harus ditanam oleh petani. Kalu petani sudah diacuhkan begitu, bisa-bisa kita beras langka. Kalau beras langka, harga beras akan melambung tinggi. Kalu beras tinggi, otomatis harga kebutuhan yang lain pun akan ikut naik.

Masyarakat di Indonesia ini sejak awal sudah terdidik sebagai masyarakat agraris. Kenapa sampai saat ini belum ada pemimpin kita yang peduli terhadap nasib para petani? Bibit, pupuk, penjualan hasil panen masih saja dimonopoli. Bagaimana petani mau maju? Sistem monopoli benar-benar mematikan usaha para petani itu sendiri. Harus ada persaingan. Sampai saat ini saja pekerjaan sebagai petani di desa dianggap lebih rendah dibanding karyawan swasta di kota. Kalau nanti tidak ada yang mau jadi petani lagi gara-gara pekerjaan ini dianggap rendah, kita mau makan apa? Impor beras? Tidak malu? Negara agraris import beras dari negara lain yang basically bukan negara agraris.

Saya salut dengan masyarakat Jawa Tengah. Saya pikir masyarakat Jawa Tengah sudah mulai bisa diajak berdemokrasi. Terbukti dengan terpilihnya Bibit-Rustri dalam Pilgub Jateng Bulan Juni lalu. Menurut saya, program-program yang ditawarkan Bibit-Rustri memang konkret dan pas dilaksanakan di Jawa Tengah. Masalah bagaimana mereka melaksanakan program atau tidak, itu akan kita lihat selama lima tahun ke depan.

Jadi, mari telaah lagi program capres mana yang kira-kira akan memperjuangkan nasib para petani kita. Karena program itu adalah program yang menurut saya paling konkret dan bisa dilaksanakan di jaman seperti ini dengan kondisi negara Indonesia yang seperti ini. Sekali lagi, tulisan ini tidak ada maksud sama sekali kampanye atau mendukung salah satu capres. Saya sebagai mahasiswa FISIP dan sebagai salah satu bagian dari Bangsa ini hanya ingin menyumbangkan pikiran saya demi kemajuan Indonesia tercinta.



4 Responses to “Bentar Lagi Pemilu, Milih Siapa??”

  1. pemilu di indonesia lebih kepada gimana biar dapet kekuasaan. gak karena gimana biar rakyat makmur. Partai cuma mikir gimana caranya biar dapet kursi trus biar calonnya jadi presiden. Buktinya partai2 pada ngusung caleg artis terkenal, bukan karena kemampuannya bagus, tapi karena menang nama aja. Denger berita juga partai yang isinya aktivis2 islam juga mengusung caleg non muslim. Apa karena pengen nyari kursi aja?
    politik sekarang udah kacau, mau niat awalnya baguspun, akhirnya terjebak juga dalam kekacauan politik.

  2. istihoroh .. minta petunjuk sama Allah ..
    harus tetap memilih tapi, karena memilih pemimpin adalah tanggung jawab kita ..
    tidak memilih berarti pengecut ..

  3. Satu suara kita menjelang Pemilu sangat mahal harganya, namun setelah pemilu, 1000 suara kita sangat sulit menembus dinding beton Senayan. Berpikirlah sebelum memilih. Golput bukan berarti pengecut. Lebih baik meninggalkan keragu-raguan daripada menyesal di kemudian hari. Berjuang untuk negara tidak harus lewat Politik / Pemilu. Istiqomah pada diri sendiri untuk berbuat yang terbaik untuk negara.

  4. 4 mayshinbie

    namun terkadang lahirnya sebuah komunitas atau orang-orang yang menganggap diri mereka golput juga merupakan masalah yang harusnya lebih diperhatikan pemerintah menyambut pemilu 2009 nanti….


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: